Entrepreneurship Bagi Pelayan Tuhan Menurut Pandangan Theolog

E-mail Cetak PDF

Pdt._Erastus_SabdonoDUA pertanyaan mengawali perbincangan MIA dengan kedua orang Theolog diatas ditempat yang terpisah. Apakah dapat dibenarkan bila seorang aktivis diladang Tuhan, adalah juga seorang entrepreneur, melayani dan berbisnis? Pertanyaan berikut:apakah entrepreneurship dapat mendorong atau justru menghambat aktivitas pelayanan para aktivis diladang Tuhan?

DR Erastus Sabdono, Rektor Seminari Bethel sejak tahun 2004 sampai 2009, yang telah mengantongi dua gelar Doktor, Honoris Causa dari American Christian Collage dan Doktor yang diraihnya dengan menyelesaikan program S-3 di 5ekolah Tinggi Theologia Baptis Indonesia, sebelumnya telah terlebih dahulu menyelesaikan program S2 (Magister Theologia) di STT jalan Proklamasi Jakarta. Dengan senyum khas, Pak Eras, demikianlah nama panggilan dari DR Erastus Sabdono mulai menanggapi pertanyaan MIA, sejak masih muda saya sudah berdagang dan berusaha sendiri untuk membiayai sekolah dan kuliah. Karena dagangnya ikan bandeng, sampai-sampai pada saat ditempatĀ  kuliahpun badan masih penuh sisik ikan. Hari ini setelah dipercayai Tuhan untuk mengembalakan sekitar 6000 jemat Tuhan, saya masih juga menjalankan beberapa bidang usaha yang ditangani oleh istri. Prinsip saya sederhana, hidup ini jangan menjadi beban bagi orang lain, sarna seperti Rasul Paulus melayani memberitakan Injil sambil berdagang tenda bukan!

Menurut saya demikianlah Pak Eras mulai meneruskan penjelasannya: entrepreneurship pada dasarnya adalah usaha untuk mewujudkan ibadah dalam arti yang lengkap dimana seluruh patensi kehidupan, patensi jasmani maupun rohani digunakan untuk melayani pekerjaan Tuhan dalam rangka melebarkan Kerajaan Nya di bumi ini. Disini pelayanan tidak dibatasi dalam lingkup tembok gereja, artinya pelayanan bukan hanya kegiatan ritual, serimonial, kebaktian rutin dan misa, atau kegiatan-kegiatan yang bersifat gerejani, tetapi segala kegiatan yang dilakukan untuk mewujudkan rencana Allah dalam kehidupan man usia. Berarti seluruh kegiatan kita termasuk usaha, bisnis, adalah ibadah bagi Tuhan. Namun mengingat daya tarik bisnis dapat mengganggu gerak lajunya pelayanan, makanya harus dilihat apa motivasi terdalam dari setiap pelayan Tuhan yang mau berbisnis. Kita harus menyadari bahwa tidak semua orang memiliki tempat dihadapan Tuhan yang sarna, ada orang ditempatkan pada pelayanan gerejani, atau pelayanan melalui yayasan sosial, tetapi ada juga pengusaha didunia dagang, dunia usaha sekuler.

Pada kesempatan ini saya coba menjelaskan arti dari full timer dan full heart, banyak orang merasa sudah full timer bagi Tuhan karena sudah melakukan pekerjaan-pekerjaan gerejani dan sarna sekali tidak menyetuh perkerjaan-pekerjaan sekuler. Padahal sesungguhnya setiap orang percaya juga harus menjadi full timernya Tuhan, sebab bukankah kita semua sebagai orang percaya sudah dibeli dan dibayar dengan harga lunas menjadi milik Tuhan, full timer bagi Tuhan! Yang penting disini bukan berapa lama kita ada dalam atau diluar lingkungan gereja, tetapi apa motivasi terdalam ketika kita melakukan pekerjaan tersebut sehingga kita harus full heart (sepenuh hati) untuk Tuhan. Maksudnya apa saja kita kerjakan, semuanya dilakukan sepenuh hati untuk Tuhan, walaupun mungkin dia adalah seorang pedagang namun dia berdagang dengan sepenuh hati untuk Tuhan. Ironisnya ada orang-orang yang full timer dalam lingkungan pekerjaan gerejani tetapi tidak sepenuh hati bagi Tuhan, keberadaan ini justru sangat berpotensi sebagai penyebab kemunduruan dan bahkan sangat mungkin merusak pelayanan gereja itu sendiri. Namun memang harus diakui bahwa ada orang-orang yang memang ditetapkan Tuhan untuk hanya melakukan pekerjaan dan tugas-tugas gerejani, tanpa harus menangani kegiatan-kegiatan entrepreneurship (usaha sekuler). Sebelumnya saya telah katakan, bahwa semua orang memiliki tempat yang berbeda dihadapan Tuhan, jadi hendaknya semangat entrepreneurship yang sedang digalakan oleh AYUB ini harus disikapi dengan bijaksana sesuai dengan tempat yang Tuhan sediakan kepada tiap-tiap orang. Sebagai seorang pedagang atau pengusahapun dia harus membaca dan mengenal serta mengukur dirinya, jangan sampai kapasitasnya hanya bisa berada pada tataran nilai usaha dua ratus juta, namun memaksa dirinya ke tataran dua ratus milyar misalnya. Kita belajar dari Rasul Paulus, dia membuat dan menjual tenda bersama dengan teman-teman sepelayannya sebatas memperoleh penghasilan menunjang pelayanan. Rasul Paulus sepertinya tidak berkeinginan untuk mengembangkan pembuatan tenda secara mekanis agar volume penjualan bertambah, walaupun mungkin kesempatan untuk meningkatkan penghasilan itu sangat terbuka. Anda dapat bayangkan kalau pada waktu itu Rasul Paulus dan teman-temannya, memfokuskan pengembangan produksi tenda dalam jumlah besar-besaran, sehingga hampir sebagaian besar waktunya dan pemikiran tersita, kira-kira apa masih mungkin perkerjaan penginjilan nya sampai ke Asia?

Oleh karenanya kedewasaan rohani, justru menjadi landasan dari seluruh perjalanan rohani hidup kita, sementara entrepreneurship itu hanya merupakan hal teknis "alat", sedangkan essensinya terletak pada kedewasan rohani. What is the reason we life (apa alasan kita hidup) dengan memahami alasan kila hidup, maka ternyata gereja bukan rumah ibadah tetapi tempat kita bertemu bersama. Sedang ibadah adalah warung, toko, pabrik, kantor, tempat dimana kita mengembangkan potensi jasmani rohani untuk mencari nafkah, tentunya dengan focus dan motivasi yang benar bagi Tuhan.

Pada dasarnya entrepreneurship bertujuan untuk memberi nilai positive bagi pekerjaan gerejani, jangan sampai berbalik menjadi negative. Oleh karenanya mungkin lebih tepatnya setiap orang percaya harus dilengkapi terlebih dahulu dengan kedewasan rohani yang baik, yaitu pengendalian diri terhadap keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup. Termasuk juga para pelayan Tuhan yang mau menjadi entrepreneur, sebab belum tentu status sebagai pelayanan Tuhan ia sudah dewasa rohani. Kenyataan, bukan hanya pelayan Tuhan yang bisa salah dalam kegiatannya, tetapi juga seorang entrepreneurship yang kawakan sekalipun bisa mengalami kehancuran dalam usahanya. Jadi sebaiknya hidup dalam pertobatan dulu baru menjdi entrepreneur, jangan dibalik jadi entrepreneur dulu baru bertobat. Tetapi sebagai seorang pelayan Tuhan yang sudah tiga puluh tahun melayani pekerjaan gerejani, bersamaan dengan itu juga saya sebagai seorang entrepreneur dari pedagang ikanĀ  asin, produksi kerajinan sampai mengelola percetakan besar, ternyata orang itu dapat saja dewasa rohani bersamaan ketika ia mulai beraktivitas dalam hidupnya termasuk dalam entrepreneurship. Sebab kalau sekiranya harus menunggu dewasa rohani terlebih dahulu, maka mungkin ia tidak pernah akan dapat menjadi seorang entrepreneur. Namun kembali lagi kesatu hal yang sangat saya tekankan ialah, sebaiknya masing-masing orang memeriksa penempatannya dihadapan Tuhan dan mengukur kapasitas dirinya terlebih dahulu sebelum ia melangkah lebih jauh sebagai seorang entrepreneur.

Jangan terbawa oleh arus mode, karena sekarang lagi rame-rame entrepreneurship, serta merta ikut menjadi entrepreneur. Saya kira bila setiap pelayan Tuhan menyikapi dengan baik dan bijaksana akan ide AYUB dalam program membudayakan penerapan enterpreneurship, khususnya bagi gereja serta seluruh umat dan para pelayanannya, maka hal ini dapat menjadi salah satu sumbangsih yang efektif bagi pelebaran Kerjaan Allah dibumi Indonesia.

 
Banner

Login



English Chinese (Simplified)

Kalender Kegiatan

No events
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini220
mod_vvisit_counterKemarin262
mod_vvisit_counterMinggu ini220
mod_vvisit_counterMinggu kemarin1959
mod_vvisit_counterBulan ini6140
mod_vvisit_counterBulan kemarin11597
mod_vvisit_counterSelama ini100913

We have: 1 guests, 2 bots online
IP anda: 38.107.179.236
 , 
Hari ini: Mei 19, 2012
spotlight