BAGI saya tentu saja menjadi Direktur Eksekutif ataupun Ketua Umum DPP AYUB itu tidak ada bedanya. Karena, semua jabatan itu saya hayati dalam satu spirit yang sama, yakni spirit pelayanan, pengabdian di dalam dan untuk AYUB. Apalagi saya sendiri dari awal pun menginginkan agar AYUB menjadi besar, dan pelayanannya dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat pada umumnya, dan khususnya bagi anggota AYUB di seluruh Indonesia.
Untuk menuju cita-cita yang seperti itu dibutuhkan kesediaan, ketekunan, dan mitra, serta jejaring yang cukup luas. Maka, kalau dipandang sebagai organisasi, menjadi Ketua Umum dan menjadi Direktur Eksekutif memang beda, tetapi sebagai esensi semangat pelayanannya sama.
Bila mau dilihat bedanya menjadi Ketua Umum dan menjadi Direktur Eksekutif adalah sebagai berikut. Ketua Umum itu mempunyai otoritas untuk membuat kebijaksanaan bersama para pengurus. Sedangkan Direktur Eksekutif itu hanya melaksanakan tugas-tugas dari para pengurusnya dan memberikan masukan kepada para pengurusnya, serta meminta saran ataupun pendapat para pengurus untuk melaksanaan tugas.
Direktur Eksekutif itu melaksanakan kegiatan harian di sekitar DPP maupun kegiatan umum baik di tingkat DPD & DPP. Sebagai pelaksana tugas dari DPP.
Pembedaan itu secara konseptual mudah. Tetapi, menjadi tidak mudah di dalam praktiknya. Karena, perpindahan dari Ketua Umum menjadi Direktur Eksekutif, pada hari -hari pelaksanaannya kadang menjadi terasa kikuk atau kagok. Karena, Direktur Eksekutif harus menyampaikan informasi dan minta persetujuan pengurus. Sedangkan Ketua Umum tinggal memberitahukan, menyampaikan, dan mengajak rapat. Tapi, di situlah seninya dalam berorganisasi. Ini akan menjadi proses yang lebih panjang. Bagi saya peralihan ini memperkaya kehidupan saya dalam berorganisasi dan memperkaya dalam teknik berorganisasi agar dapat melaksanakan tugas secara effectif & efisien.
Sebagai Direktur Eksekutif saya kagok ( - canggung), karena dulu saya biasa melaksanakan otoritas saya sebagai Ketua Umum, sekarang tidak bisa begitu. Hal ini bisa menjadi tumpang tindih.
Kedua, dalam komunikasi sebenamya biasa saja. DPD dalam membangun kerjasama tetap berharap semua bisa dilaksanakan dengan baik, tetapi bagi seorang Direktur Eksekutif tentu saja tidak bisa begitu. Itu sebabnya, kita harus mampu mengolah, memanage para DPD, supaya bisa disampaikan pada Ketua Umum dan bisa diterima dengan enak dan bisa membuat kebijakan-kebijakan. Hal itulah yang sering kali itu bisa menjadi tumpang tindih.
Ketiga, ketika Ketua Umum berhalangan dan tidak bisa melaksanakan tugasnya, bisa saja Direktur Eksekutif melaksanakan tugas-tugasnya. Ini jangan dipandang bahwa seolah-olah saya maruk (haus kerja/kuasa) dengan semua itu. Akan tetapi, semua itu saya laksanakan karena ada mandat.
Ketika saya menjadi Ketua umum cara melaksanakan pekerjaan dengan membuat policy policy, membangun kerjasama dengan para pengurus secara korporasi, dan selalu melibatkan seluruh pengurus, sehingga pengurus tahu apa kelemahan dan kelebihan, dan apa target yang harus dicapai.
Dalam alih tongkat kepemimpinan dan/atau pergantian kepemimpinan ini kebetulan 50% pengurus lama masih tinggal di dalam kepengurusan yang baru. Dan begitu kuatnya para pengurus itu untuk melaksanakan cita-cita kepengurusan waktu saya menjadi Ketua Umum, sehingga bagi saya sekarang tinggal mendorong, menambahkan beberapa hal yang kemarin masih dirasa kurang, dan mengurangi yang kemarin dirasa berkelebihan.
Kegiatan ini rupanya dipantau oleh Ketua Umum yang baru dan temyata Ketua Umum yang baru sekarang ini mendorong untuk proses pencapaian tujuan-tujuannya, dan capaian apa yang belum tercapai. Kepada para Pengurus DPD yang belum aktif maka DPP mendorong / memotivasi agar entah bagimana caranya anggota-anggotanya dapat ikut beraktivitas dalam organisasi AYUB ini melalui tiga kompartemen yang ada. Berikutnya disadari oleh para pengurus DPD bahwa beberapa DPD yang kepengurusannya masih lemah ini sungguh perlu ditingkatkan. Ini sudah tercermin ketika rapat perdana pengurus kemarin. Ada beberapa hal yang disikapi, baik dalam jangka 3 tahun, 1 tahun, maupun menengah, sehingga saya sebagai mantan Ketua Umum sangat gembira bahwa program-program itu akan diteruskan.
Sebagai Direktur Eksekutif dan Ketua Umum baru ingin agar kerjasama menciptakan sesuatu yang baru, tidak ada rasa kejenuhan di dalam kepemimpinan. Ketua Umum yang baru mendapat kesempatan untuk mengekspresikan ide-idenya tentu saja dengan didukung pengurus-pengurus yang lain.
Capaian yang signifikan
Korporasi semangat pengurus tingkat DPD dan DPP, khususnya DPP sangat tinggi, demikian juga loyalitas mereka membuat kegiatan AYUB maju terus.
Kedua, adanya kebersamaan dalam event di mana entrepreneurship begitu menggulir baik dan luas. Temyata nara sumbemya pun berasal dari orang yang cukup dekat dengan AYUB sendiri. Dengan begitu event ini dirasa begitu bermanfaat dan menjadi puncak dari seluruh program entrepreneurship, khususnya untuk menjawab masalah pendidikan.
Ketiga, sangat dirasakan dan bertubi-tubi terimakasih dari para anggota AYUB yang bergerak di bidang pendidikan. Bagaimana AYUB sungguh sungguh memberikan manfaat dan mengangkat yayasan pendidikan itu dan memberikan informasi informasi yang bermanfaat untuk kemajuan yayasan pendidikan.
Pemberdayaan yang semula oleh AYUB dilakukan secara charity atau cuma-cuma, lambat-laun menjadi mandiri peserta membayar sendiri dan menarik berbagai pihak dan itu terbukti dengan terlibatnya para sponsor. DPD yang mau mengakomodasi kegiatan kegiatan sehingga dalam setiap kegiatan AYUB tidak perlu mengeluarkan banyak dana, walaupun tentu saja masih mendapatkan sedikit subsidi untuk biaya operasional. Ini masih berjalan terus dengan harapan kegiatan ini masih perlu diclearkan agar terus maju.
Berikutnya, kemandirian itu bukan dalam pelaksanaan kegiatan seminar di berbagai daerah, tetapi kemandirian dari subsidinya. Waktu Ketua Umum I Bapak Ir. Ciputra, dana yang digelontorkan itu besar sekali dan nyaris tanpa batas. Waktu Ketua Umum II Bapak Sony Subrata juga nyaris tidak ada batasnya. Lalu, mulai saya dana itu dibatasi. Hanya 1 tahun saya boleh mengalokasikan dana untuk kegiatan tertentu. Tahun ke-2 mulai dikurang lagi, tahun ke-3 dikurangi lagi.
Namun, kalau dilihat dari grafik yang kita laporkan waktu MUNAS IV itu justru berbanding terbalik. Uangnya menurun, tetapi kegiatannya naik. Ini menjadi tolok ukur kesuksesan. Dalam artian, kemandirian kegiatan itu sendiri dapat tercapai dan berjalan terus. Sampai saat terakhir pun kami hanya menerima subsidi untuk kegiatan operasional kantor saja, sedangkan operasional kegiatan DPD diupayakan dengan cara menghemat dengan membangun jejaring.
Berikutnya, kami sungguh mampu berjejaring dengan para pejabat daerah, beberapa gubemur sangat menyambut baik kegiatan AYUB. Kegiatan ini dirasa kegiatan yang pantas untuk dilakukan dan bagaimana sinergisitas umat untuk hidup dalam sebuah karya tidak perlu bersaing dalam sebuah gereja tetapi bersama-sama membangun gereja dan memberdayakan masyarakat kristiani di berbagai bidang.
Meski ada kekurangan di kompartemen sosial namun pelaksanaan Seminar Sosial Entrepreneurship membuat para pengurus yayasan sosial sangat berharap pada AYUB untuk kemajuan yayasan, dan pada tahun-tahun terakhir ini AYUB belum berhasil mensinergikan kekuatan potensial media informasi . Semoga dengan kepengurusan baru akan diteruskan seperti saat rapat perdana. Misalnya, AYUB bersama dengan Universitas Ciputra ingin membuat kisah sinetron TV dengan topik entrepreneur itu sendiri. Inilah yang diharapkan sebagai kemajuan AYUB ke depan.
Yang Masih Perlu Diberdayakan
Kompartemen media informasi yang sudah kita canangkan saat kepengurusan saya. Namun, pada tahun I kita tengah gencar membangun seputar masalah pendidikan. Pada tahun II ditambah kompartemen sosial. Pada tahun III ditambah kompartemen media dan informasi. Kompartemen ini belum bisa membangun jejaring. Kesulitan muncul dalam hal membuat kerjasama dengan para kuli tinta dan pemanggul elektronik ini, karena waktunya, filosofi yang kadang berbeda, maka belum dapat tercipta sinergi yang memberdayakan. Mungkin nantinya akan ada model yang berbeda. Kemudian kompartemen media itu diharapkan pada kepengurusan yang baru ini menjadi titik awal seluruh program-program.
Sedang untuk kepengurusan DPD memang tampak tidak begitu mudah, walaupun pengurusnya sedikit untuk membuat janji rapat bersama saja sulit. Ini adalah kegiatan sosial dan para pengurusnya dipilih dari orang-orang yang seyogyanya aktif di kegiatan dan saking aktifnya, sehingga susah untuk membuat janji.
Untuk pengurus DPD, sebagai ketua umum saya merasa gagal. Sebelumnya memang sudah kita tengarai DPD ini akan lambat dan kita ingin angkat, ubah dan diberikan vitamin baru atau suplemen, tetapi tetap seperti itu . Kami berharap DPD pada kepengurusan yang baru nanti sudah mulai merehabilitasi program dan penyegaran pengurusnya, sehingga diharapkan mempunyai wacana baru, dan diharapkan pula mereka tidak lari begitu cepat dibandingkan DPD yang lain.
Dalam mengumpulkan dana, AYUB memang masih pro dan kontra, karena zaman itu AD-ART masih dibatasi bahwa AYUB tidak boleh mengumpukan dana, karena akan menimbulkan kesan seolah-olah AYUB mengumpulkan uang untuk tuntutan para anggotanya. Maka, kami masih berpikir dan berhati-hati. Tetapi, setelah MUNAS IV ini sudah diamandemen, dan harapannya bisa mengumpulkan dana untuk bisa mandiri dan tidak tergantung pada sponsor.
Penyakit bagi-bagi anggaran
Secara pribadi pengurus tampak tidak ada niatan untuk bagi-bagi anggaran, tetapi secara kepengurusan tentu ada keinginan seperti itu. Para pengurus DPD memahami susahnya mencari dana, sponsor, tetapi dalam kehidupan organisasi besar tentu saja ini tidak etis dan tidak mendidik.
Konsep organisasi tumbuh besar secara mandiri bahkan umumnya DPP tumbuh dari DPD karena DPP tidak punya anggota dan tidak ada proyek-proyek kegiatan. Justru di AYUB ini berbalik, karena DPP menghidupi DPD-DPD.
Konsep itu mau kita ubah, walau tentu tidak mudah. Pasalnya, pengurus-pengurus DPD masih sangat berharap seperti itu. DPD baru sudah mulai kita beri tahu konsepnya, tetapi memang ada DPD lama yang masih bertahn dengan konsep lamanya.
Ini warisan yang sungguh-sungguh kita berharap bahwa warisan ini disudahi saja dan mari kita berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Dalam konsep dan prinsip organisasi ini memang dikatakan dan memang harus dikatakan dan dibenarkan. Dengan menjadi Direktur Eksekutif ini akan lebih berat lagi daripada Ketua Umum. Karena, ketika melaksanakan tugas ada kebijakan dari DPP, sekarang DPD tidak menerima subsidi untuk operasional, maka Direktur Eksekutif akan menjadi bumper ketika DPD menumpahkan segala kemarahannya.
Optimisme Direktur Eksekutif
Pertama, sebagai seorang mantan Ketua Umum,di beberapa daerah AYUB masih sangat dibutuhkan. Kedua, anggota AYUB dan yang di luar AYUB pemah mendapat manfaat AYUB. Jadi, AYUB harus terus ada. Ketiga, ada penyegaran bagi pengurus DPD. Diharapkan ada wacana baru dengan munculnya Ketua Umum yang baru, yang tentunya juga lebih progresif. Keempat, ada beberapa DPD yang kepengurusannya harus diganti.
Dengan begitu terjadi regenerasi pengurus-pengurus baru yang mampu menyebarkan visi, misi, serta sanggup menjalankan dengan baik dalam korporasi kerja yang jauh lebih baik.
Tantangan ekstemal, seperti konflik antara masyarakat, suhu politik, gesekan antar agama menjadi sebuah situasi yang sangat mendorong terciptanya perkumpulan, karena konflik dan politik yang ada di luar dan politik agama di luar justru mendorong terciptanya asosiasi ini.
Karena asosiasi ini merupakan satu kesatuan dalam karya yang tidak memikirkan untuk kepentingan diri sendiri atau kelompok sendiri, tetapi sungguh-sungguh bisa bermanfaat bagi bangsa. Harapan ke depan seperti itulah yang mengual. Dengan demikian, masyarakat kristiani Indonesia pun mendapatkan tempat yang baik di masyarakat. Ketika orang-orang krist;a·ni mau bekerja baik dan memberikan manfaat untuk bangsa, saya yakin ke depan AYUB akan semakin baik dan akan bergulir terus mengibarkan benderanya di Indonesia ini.
Anak Emas AYUB
Saya sempat berpikir mau membuat lomba antar DPD, dimaksudkan supaya mereka dapat saling melihatkan jatidirinya di masing-masing DPD. Karena DPD mempunyai kekhasan sendiri-sendiri. Kita mencoba membangun Pondok AYUB di mana-mana, namun juga tidak gampang. Seperti Medan yang bisa mengumpulkan orang-orang hebat, temyata juga tidak bisa diterapkan di daerah lain. Seperti di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, orang-orang dekat dengan wakil Gubemumya juga t idak bisa diterapkan di daerah lain. Jadi, masing-masing daerah itu unik. Maka saya berpikir memang kalau dilihat secara umum Yogya, Medan, Kalimantan Barat, dan lain-lain itu mempunyai kelebihan dan kekurangan yang khas.
Mungkin ini akan diambil suatu standarisasi untuk menilai sejauh mana bisa dikatakan pengurus DPD yang baik itu. Sekurang-kurangnya kita bisa mengukur secara umum bahwa kepengurusan DPD itu bisa berjalan tanpa konflik, kegiatan bisa berjalan, dan dari segi dana bisa mandiri. Itu kurang lebih yang kita pikirkan. Kalau mereka bisa membuat kegiatan sesuai dengan Rakemas, pengurusnya adem-ayem. Cara penggunaannya baik, laporan transparan, jejaringnya makin banyak, saya kira itu bisa dikatakan sebagai DPD yang berhasil.
Transparansi DPD
Saya merasa DPD menjadi positif karena mereka mau saling sharing. Kedua, bagaimana bukan karena ephoria untuk mendapatkan juara. Ketiga, panitia dan DPP aktif memberikan motivasi, sehingga arah program Rakemas bisa berjalan sesuai AD/ART. Kalaupun ada penyimpangan, pasti ada alasannya dan dapat dipertanggungjawabkan. Keempat, manfaat yang diperoleh adalah belajar bersama. Ini menjadi diskusi, Rakemas bukan menjadi ajang debat. Hal ini juga menjadi salah satu program Direktur Eksekutif yang akan kita sampaikan. Ketika saya menjadi Ketua Umum memang ini belum tercapai.
Rencana ke depan
Kalau di Yogya ada Pondok AYUB, di Jabodetabek ada Pondok Tani, di Manado ada ternak babi, di Medan ada ternak kelinci di panti-panti. Apapun tantangannya, ke depan tiap DPD harus mampu menyerap program -program untuk daerahnya, sehingga AYUB ada di antara mereka.
Pesan dan harapan
Harapan saya untuk pengurus DPD adalah supaya mereka terus mengembangkan AYUB dan membuat registrasi untuk para anggotanya, sehingga ada database yang terpercaya dan identitas anggota bisa terlihat. Sedangkan DPP diharapkan semakin mampu mendorong kegiatan DPD. (MINAri 8enawa)

















